Pantai Kedonganan, Teluk Jimbaran, Bali – Bobby Chinn (twitter: @BobbyChinn) seorang maestro di bidang kuliner yang memiliki darah China – Mesir berkesempatan datang ke acara Coral Triangle Day, 9 Juni 2012, di Kedonganan, Jimbaran – Bali. Dalam kunjungannya di Jimbaran, Bobby Chinn mengunjungi beberapa kafe dan restoran seafood di wilayah tersebut untuk menyosialisasikan seafood yang ramah lingkungan – seafood yang ditangkap dengan alat yang ramah lingkungan, tidak merusak, serta mengikuti protokol penangkapan yang diwajibkan lainnya.
Arsip Tag: perikanan indonesia
Laura, Kau Kemana!?

Sudah terpasang penanda satelit di karapasnya, alat berharga puluhan juta akan memberikan informasi yang tidak ternilai selama satu tahun ke depan, dan nantinya perlahan-lahan penanda tersebut akan lepas dengan sendirinya. http://www.seaturtle.org / © Jayaratha 2008
Emang siapa sih Laura??? Selebritis kah dia?? Atau terlibat kasus wisma atlet?? Anak Sorong bilang.. “Epenkah???!!!”
Hehehe.. si Laura ini special.. apa sih yang menjadikannya “sesuatu banget”? emang dia punya “jambul khatulistiwa”???
Mari mengenal Laura lebih dekat. Dia adalah seekor penyu lekang betina, bahasa Abun-nya Olive Ridley atau Lepidochelys olivacea , berwajah manis dan tubuh ideal. Bayangkan.. panjang dan lebar karapas 65 cm berat badan 64,5 kilogram. Cute kan..?
Semangat dari Aceh, Ayo Melaut!
Gambar

Sejumlah nelayan di tepian dermaga Kampung Masjid, Manyak Payed, Aceh Tamiang sedang mempersiapkan logistik dan peralatan di sebuah boat berukuran antara 5-10GT sebelum berangkat melaut untuk melakukan penangkapan ikan di perairan Selat Malaka yang berbatasan dengan Malaysia. Posisi tepian dermaga Kampung Masjid ini agak jauh menjorok kearah darat sekitar 2-3 km dengan jalur masuk-keluar mengikuti alur Sungai Manyak Payed. Kendala terbesar yang dihadapi nelayan setempat adalah pedangkalan alur dan muara Sungai Manyak Payed yang terutama diakibatkan oleh Banjir Bandang Tamiang tahun 2006 silam. Kerusakan hutan mangrove akibat perluasan perkebunan sawit dan penebangan pohon untuk kegiatan dapur arang tanpa mempertimbangkan kelestarian eksosistem mangrove telah turut mengancam perikanan pesisir bagi nelayan tradisional setempat. Tepian nelayan di Kampung Masjid ini merupakan wilayah dampingan LSM Bina Arsitektur Madani (Le’BAM) – Jaringan KuALA. Melalui mitra lokal, WWF-Indonesia telah dan sedang terus berupaya memberikan saran dan dukungan advokasi kebijakan bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tamiang untuk mengadopsi kebijakan investasi hijau kedalam pembangunan kawasan pesisir dan laut di kabupaten tersebut. Photo by: WWF-Indonesia / Arifsyah M NASUTION (Direkam, Desember 2011). Canon PowerShot G11, f/4, 1/640 sec, ISO-160, 16mm
Nonton Yuk: Silent Ocean!
Laut Yang Sunyi, sebuah film dokumenter pendek yang dibuat oleh Panji Laksmana dan rekan, sekelompok pembuat film bawah air yang profesional di bidangnya. Film ini diharapkan mampu “membangunkan” kita semua mengenai pentingnya peran konsumen dalam memperkuat upaya konservasi laut. Beberapa pelaku usaha sektor ini berusaha menjawab tantangan konsumen yang mulai sadar dengan mengubah cara pandang mereka terhadap strategi bisnis yang dijalankan, mereka sadar bisnisnya sedang dalam ancaman besar, sumberdaya kelautan mulai jauh berkurang drastis, sekarang saatnya untuk mengubah praktik-praktik bisnis mereka, untuk mengembangkan suplai yang berkelanjutan.
—————————————
Silent Ocean, the video from WWF-Indonesia made by Panji Laksmana and friends, a professional underwater movie maker. Silent ocean has awaken us how consumers playing important role in conserving fish stock. Some of the producer try to answer the call by changing their business strategy, they are under threat, their business running out the resources, they are shifting towards sustainable practices, growing supply to meet the growing sustainable market.
Rumpon: Berkah atau Musibah?
Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap. Rumpon sendiri telah lama dikenal di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai ‘rompong mandar”. Didaerah Indonesia Bagian Timur lain seperti di Sorong, Fakfak. Maluku Utara, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Sulawesi Tenggara berkembang dengan alat tangkap pancing huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline) rumpon jenis ini biasanya dipasang di perairan laut dalam untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar. Sedangkan rumpon laut dangkal berkembang penggunaannya di perairan Selat Malaka dan Laut Jawa dengan alat tangkap purse seine mini.
“Bangsawan Laut”, Siapakah Itu?
Guys, tahukah kamu kalau di laut ternyata ada golongan bangsawan atau kaum ningratnya juga lho. Bahkan darahnya benar-benar biru (mirip dengan frase-frase selama ini yang menyebutkan bahwa bangsawan identik dengan darah biru). Tahukan kamu binatang apakah itu?
Ya, cumi-cumi adalah salah satu hewan yang masuk ke dalam kelas cephalopoda dan memiliki tiga jantung serta darah yang mengalir di tubuhnya berwarna biru. Begitu hebatnya “Bangsawan Laut” ini secara morfologi. Bahkan menurut penelitian dari ilmuwan AS, si cumi ini memiliki kemampuan mendengar juga walaupun masih bisa dikatakan primitif. Ahli biologi Massachusetts menyatakan cumi-cumi ternyata bisa mendengar, meski sangat primitif.

Cumi-cumi sebagai komoditi seafood (c) http://aurapesona.com
Studi yang diterbitkan di Journal of Experimental Biology ini juga menunjukkan, cumi-cumi mendeteksi suara melalui sel rambut yang melapisi dua organ kantung di dekat pangkal otak cumi-cumi. Di dalam kantung itu terdapat butiran kecil kalsium karbonat yang disebut statolith. Ini menghasilkan sinyal elektrik ke otak cumi. Frekuensi itu sedikit berbeda dengan kemampuan mendengar manusia yang perubahannya bergantung pada gelombang suara. Manusia hanya mampu mendeteksi frekuensi dari 20 Hz hingga 20 ribu Hz. Di sisi lain, cumi-cumi hanya mampu mendengarkan frekuensi hingga 500 Hz yang memudahkan mereka menjauh dari predator utama yaitu paus bergigi dan lumba-lumba.

