Koki Selebritis Ajak Masak Seafood Ramah Lingkungan

Gambar

Pantai Kedonganan, Teluk Jimbaran, Bali – Bobby Chinn (twitter: @BobbyChinn) seorang maestro di bidang kuliner yang memiliki darah China – Mesir berkesempatan datang ke acara Coral Triangle Day, 9 Juni 2012, di Kedonganan, Jimbaran – Bali. Dalam kunjungannya di Jimbaran, Bobby Chinn mengunjungi beberapa kafe dan restoran seafood di wilayah tersebut untuk menyosialisasikan seafood yang ramah lingkungan – seafood yang ditangkap dengan alat yang ramah lingkungan, tidak merusak, serta mengikuti protokol penangkapan yang diwajibkan lainnya.

Bobby berdiskusi dengan gaya yang seru kepada chef di masing-masing restoran seafood di Jimbaran

Bobby berdiskusi dengan gaya yang seru kepada chef di masing-masing restoran seafood di Jimbaran. Dalam kesempatan tersebut, Bobby menjelaskan mengenai seafood yang ramah lingkungan dan saran serta trik pengolahan. © WWF-Indonnesia / Stanny ANGGA

Lanjut membaca

Rumpon: Berkah atau Musibah?

Rumpon oleh nelayan di Alor

Rumpon oleh nelayan di Alor © WWF-Indonesia / Dwi A GAUTAMA

Rumpon atau Fish Aggregating Device (FAD) adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.  Rumpon sendiri telah lama dikenal di Indonesia, terutama di daerah Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai ‘rompong mandar”. Didaerah Indonesia Bagian Timur lain seperti di Sorong, Fakfak. Maluku Utara, Teluk Tomini, Laut Sulawesi, Sulawesi Tenggara berkembang dengan alat tangkap pancing huhate (pole and line) dan pancing ulur (handline) rumpon jenis ini biasanya dipasang di perairan laut dalam untuk menangkap ikan-ikan pelagis besar. Sedangkan rumpon laut dangkal berkembang penggunaannya di perairan Selat Malaka dan Laut Jawa dengan alat tangkap purse seine mini.

Lanjut membaca

“Bangsawan Laut”, Siapakah Itu?

Guys, tahukah kamu kalau di laut ternyata ada golongan bangsawan atau kaum ningratnya juga lho. Bahkan darahnya benar-benar biru (mirip dengan frase-frase selama ini yang menyebutkan bahwa bangsawan identik dengan darah biru). Tahukan kamu binatang apakah itu?

Ya, cumi-cumi adalah salah satu hewan yang masuk ke dalam kelas cephalopoda dan memiliki tiga jantung serta darah yang mengalir di tubuhnya berwarna biru. Begitu hebatnya “Bangsawan Laut” ini secara morfologi. Bahkan menurut penelitian dari ilmuwan AS, si cumi ini memiliki kemampuan mendengar juga walaupun masih bisa dikatakan primitif. Ahli biologi Massachusetts menyatakan cumi-cumi ternyata bisa mendengar, meski sangat primitif.

Cumi-cumi sebagai komoditi seafood

Cumi-cumi sebagai komoditi seafood (c) http://aurapesona.com

Studi yang diterbitkan di Journal of Experimental Biology ini juga menunjukkan, cumi-cumi mendeteksi suara melalui sel rambut yang melapisi dua organ kantung di dekat pangkal otak cumi-cumi. Di dalam kantung itu terdapat butiran kecil kalsium karbonat yang disebut statolith. Ini menghasilkan sinyal elektrik ke otak cumi. Frekuensi itu sedikit berbeda dengan kemampuan mendengar manusia yang perubahannya bergantung pada gelombang suara. Manusia hanya mampu mendeteksi frekuensi dari 20 Hz hingga 20 ribu Hz. Di sisi lain, cumi-cumi hanya mampu mendengarkan frekuensi hingga 500 Hz yang memudahkan mereka menjauh dari predator utama yaitu paus bergigi dan lumba-lumba.

Lanjut membaca